Malaysia · Traveling

Malaysia 2016: Jelajah Melaka

Setibanya di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2), kami mampir beli simcard dulu merk Maxis, urus imigrasi, dan baru setelahnya mencari KFC karena sudah lapar berat. Kami memesan 2 menu rice plate yang terdiri dari nasi lemak, ayam goreng, telur, dan sambal (kayak sambel ikan gitu), sedangkan untuk softdrink dibeli terpisah karena tidak termasuk dalam paket. Rasanya? Biasa aja ya hehe… Kalau kata saya masih enakan KFC di Indonesia yang gurih, tapi kalau untuk ukuran ayamnya, KFC disini juara deh.

Rice Plate KFC – Gateway KLIA2 Mall

Setelah kenyang, kami lantas menuju konter tiket bus tujuan ke Melaka Sentral, nama busnya Transnasional. Bus kami berangkat pukul 11.45 dan estimasi perjalanan kurang lebih 2,5jam. Melaka Sentral merupakan terminal bus besar yang di dalamnya juga terdapat pasar dan bazaar. 

Wefie di dalam Bus Transnasional (tujuan KLIA2 – Melaka Sentral)

Setelah sampai di Melaka Sentral, untuk menghindari insiden kehabisan tiket pulang ke Kuala Lumpur, kami langsung membeli tiket tujuan dari Melaka Sentral menuju Kuala Lumpur. Berhubung letak hotel kami selama KL berada di Jalan Pudu, jadi saya dan suami mencari konter bus City Express untuk tujuan Pudu Sentral, tapi ternyata rute tsb dihilangkan (mungkin sepi penumpang kali ya) dan akhirnya kami putuskan untuk beli tiket Bus Delima tujuan ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS)

Tiket kembali ke KL sudah ditangan, lega! Sekarang saatnya naik bus tujuan Bangunan Merah, nama busnya adalah Panorama, parkirnya di platform 17 jurusan Ujong Pasir. Bayarnya pas naik bus ya, jadi tidak beli tiket di konter. 

Suasana di dalam Bus Panorama

Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit sampai akhirnya kami turun di depan Bangunan Merah yang ramai sama turis. Buru-buru kami buka itinerary dan google maps untuk mencari letak hotel kami yaitu Hotel Hong.

Bangunan Hotel Hong, yang mirip ruko di daerah Pancoran

Saya dan suami sempat nyasar, kami jalan kaki jauh sekali πŸ˜– sampai akhirnya dengan kepala dingin, saya dan suami sempat duduk dulu di sebuah halte bus lalu mulai cari jalan yang benar. Kami ikuti petunjuk GPS dan viola sampai juga akhirnya di Hotel Hong. Setelah sampai hotel, kami baru sadar kalau hotel kami itu letaknya sebelum Bangunan Merah jadilah kami jalan berputar-putar karena turun bus lebih jauh πŸ˜₯ ya sudah nggak apa-apa, beli pengalaman hehe.. Positifnya, saya dan suami jadi apal jalan hehe.. *lalu pijat-pijat kaki*

Hotel Hong ini merupakan salah satu hotel yang direkomendasikan para backpacker jika berkunjung ke Melaka. Selain karena letaknya yang dekat sekali dengan Jonker Street, pelayanannya baik, dan ratenya bersahabat sekali. Kondisi kamarnya walaupun kecil juga nyaman dan bersih, namun sayang kami dapat kamar 113 dimana di belakang headboard tempat tidur kami ternyata bersebelahan dengan bathroom kamar sebelah, jadi berisik deh πŸ˜”

Lanjut ke konten jalan-jalannya sekarang ya, maaf prolognya kelamaan πŸ˜€

* * *

Tidak heran Melaka menjadi salah satu UNESCO World Site Heritage City di dunia. Selain karena di kota ini terdapat banyak reruntuhan bangunan bersejarah peninggalan bangsa Portugis dan Inggris yang dulunya pernah menduduki Melaka, mayoritas penduduk disini adalah pencampuran Melayu dan Chinese (biasa disebut keturunan Baba Nyonya) yang memiliki keanekaragaman budaya yang saling melengkapi dengan penduduk keturunan lainnya. Dan juga yang terpenting adalah bagaimana keseriusan Pemerintah dalam mengelola kota ini sebagai destinasi wisata. Sungai Melaka bersih sekali loh, bebas sampah, sepanjang pinggir sungai dihiasi dengan tanaman dan bunga. Tembok-tembok rumah yang menghadap ke sungai juga dihiasi dengan mural, serta river cruise juga menjadi salah satu daya tarik sendiri bagi turis. 

Sungai Melaka

Dari Hotel, kami berjalan random sampai tiba di Jembatan Pasar. Kami nggak menyangka bahwa dihadapan kami adalah Sungai Melaka yang jauh sekali dari kata kotor dan bau. 

Jembatan Pasar, dekat sekali dengan Hotel Hong

Berdasarkan papan informasi yang kami baca, jika kami berjalan terus kami akan menemukan Bangunan Merah dan beberapa objek wisata lainnya, wah asik nih pikir kami dalam hati jadi sambil menikmati sore dengan berjalan kaki, kami juga bisa mampir-mampir ke situs sejarah. 

Pedestrian di sepanjang Sungai Melaka
Menikmati lukisan mural sepanjang berjalan kaki
Bangunan rumah yang unik
Sungai Melaka yang sangat bersih, tidak ada sampah dan tidak bau

Church of St. Francis Xavier

Ketika sedang berjalan kaki, mata kami menangkap bangunan unik. Setelah kami dekati ternyata merupakan bangunan gereja St. Francis Xavier. 

Bangunan Gereja St. Francis Xavier

Gereja ini dibangun pada tahun 1849, saat kami lewat bangunannya terkunci. Saya tidak tau apakah gereja ini masih aktif digunakan untuk misa atau tidak. Dari gereja ini, kami masih berjalan lurus sampai akhirnya tiba di…

Bangunan Merah & Sekitarnya.

Di kawasan wisata Bangunan Merah ini, kita bisa menemukan bangunan iconic Melaka, yaitu gereja tua Christ Church yang didirikan tahun 1753, Clock Tower, Stadthuys (balai kota), dan juga Air Mancur Ratu Victoria yang terletak di tengah-tengah taman. 

Suasana sore hari di Bangunan Merah, penuh turis.
Clock tower
Salah satu spot terlaris untuk berfoto

Di sekeliling Bangunan Merah juga banyak terdapat becak hias yang heboh banget dengan suara musiknya, kita bisa sewa becak ini untuk berkeliling, tapi kalau kami lebih pilih berjalan kaki.

Tourist Information Centre

Di depan Bangunan Merah, terdapat sebuah bangunan dua lantai yaitu Tourist Information Centre. Kita bisa mendapatkan peta atau brosur-brosur penginapan disini. Salahnya kami, waktu sampai ke Melaka, kami tidak langsung mampir kesini, setidaknya untuk tanya petugas mengenai petunjuk untuk sampai hotel kami. 

Tourist Information Centre

Setelahnya kami melanjutkan berjalan kaki lagi menyusuri tepian sungai sampai menemukan spot foto cantik dengan berlatarbelakang bangunan Hotel Casa del Rio. 

Berfoto dengan latar belakang Hotel Casa del Rio
Wefie lagi deh πŸ˜†

Museum Maritim

Tidak jauh dari perhentian terakhir, kami melihat bangunan unik berbentuk kapal besar yang megah, yang dikenal dengan namanya adalah Flor le da Mar. Keberadaan museum ini sangat terkait erat dengan sejarah emas Melaka yang pernah menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara. 

Museum Maritim

Sayangnya saya dan suami tidak secara khusus meluangkan waktu untuk masuk ke dalam museum, alasannya karena kami sudah capek hehe… 😰😰😰

Akhirnya kami bersantai sejenak di deretan tempat duduk yang menghadap sungai. Saya sendiri cuma duduk diam sambil memandang sekeliling dan memperhatikan air sungai yang tenang, perasaan saya diliputi rasa syukur yang tidak terhingga. Teduh rasanya…

Belakangan setelah lihat peta, baru sadar kalau dihadapan kami itu adalah aliran sungai yang langsung bermuara ke Selat Melaka
Sang suami yang tidak pernah lelah membidik lensa kameranya, saya pun tidak pernah lelah jadi modelnya πŸ˜„

Kamipun beranjak dari tempat duduk kami, segera berjalan kaki mencari tempat untuk makan malam. Kami memutuskan untuk makan malam di Resto A Famosa Chicken Rice Ball karena penasaran sama rasa chicken rice ball yang ternyata mirip pempek nasi πŸ˜‚

Interior restoran A Famosa, kental dengan nuansa merah.
Menu yang kami pesan (kiri-kanan): Chicken Rice Ball, Ayam Rebus, Babi Panggang, dan Nasi Hainam

Kami berdua suka sekali dengan ayam rebusnya, daging ayamnya lembut dan bumbunya pas di lidah. Sedangkan tekstur babi panggangnya garing tapi asin… Menurut Encik Amey (Pemilik Hotel Hong), masakan di A Famosa kurang sedap dan agak pricey, dia saranin kita untuk coba Cung Wah lain kali. Oke, noted.

Saat perjalanan pulang ke hotel, saya sempat mengambil gambar pemandangan Sungai Melaka saat malam hari. Terang dengan sinar lampu, cantik. Jika ada kesempatan, lain kali saya pasti akan coba Malacca River Cruise.

Sungai Melaka pada malam hari

* * *

Yang kami lewatkan:

  1. Karena kami tiba di Melaka pada hari Kamis dan kembali ke Kuala Lumpur esokanya, maka kami melewatkan Jonker Street Night Market (pasar malam) yang hanya ada pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
  2. St. Paul’s Hill juga kami lewatkan karena kaki kami sudah lelah. 
  3. A Famosa Fort (Porta De Santiago)
  4. Melaka River Cruise
  5. Baba & Nyonya Heritage Museum
  6. dan lain-lain, yang dikarenakan waktu liburannya kurang hihi…

    “Travel is the best way to be lost and found, all at the same time” ~ Brenda Smith

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s