Home Sweet Home

Berawal Dari Mimpi

Beberapa waktu lalu, saya membaca dua tulisan yang rasanya kok saya banget ya. Isi dari tulisan pendek tersebut adalah mengenai impian penulis untuk memiliki rumah impian dan bagaimana perjalanan mereka dalam mewujudkan rumah impian tersebut. Saya ceritakan kembali sedikit ya atas kedua tulisan tsb:

Cerita pertama, ditulis oleh seorang Working Mom yang punya rumah instagramable banget, bahkan sampai diliput oleh stasiun TV dan majalah. Suatu ketika, ia menuliskan bahwa ingin memiliki rooftop garden yang cantik, tak lupa foto rooftop garden beserta meja kursi untuk bersantai pun diunggah untuk melengkapi tulisan tersebut. Yang menarik, ia menuliskan sebuah kalimat pendek dibawah fotonya…

Mimpi selanjutnya. Punya rooftop garden. Gak apa apa kan ya mimpi? Rumah yang sekarang aja  awalnya cuma dari mimpi selama 13 tahun – Ariana

Saya langsung berkomentar dalam hati, gilakkkk.. Rumah kece milik Mba yang satu ini hasil perwujudan mimpi dia selama 13 tahun? Aku salut dan terinspirasi sekali. 

Rooftop Garden impian Mba Ariana

Cerita kedua, saya baca melalui Instagram juga. Kali ini sosok penulisnya adalah juga seorang newlyweds (sama seperti kami) yang mendedikasikan dirinya untuk memajukan dunia pertanian di tanah air. Lokasi yang beruntung dibinanya bersama dengan para petani adalah Yogyakarta dan Ubud, Bali. Suatu ketika, saat berkunjung ke rumah salah satu mentornya di Tegalalang – Ubud, sontak dia langsung bilang kalau rumah mentornya ini adalah rumah impian. Kenapa? Coba baca tulisan dibawah ini ya… 

Saya langsung melonggo, gak salah ini? Ini lebih gilakk lagi, sang pemilik rumah yang juga mentor penulis mulai menuliskan jurnal mengenai rumah impian sejak 1987, yang artinya sejak 30 tahun lalu.
Standing ovations for him!

Saya langsung tergerak, ingin menulis dan menggambar dengan detail rumah impian saya dan suami seperti apa nanti. Tidak peduli butuh waktu berapa lamapun kami akan menanti dengan sabar, karena bercermin dari dua cerita diatas bahwa sesungguhnya impian besar seperti memiliki rumah idaman cuma berawal dari sebuah mimpi. Mimpi beberapa tahun lalu, belasan tahun lalu, bahkan mimpi puluhan tahun lalu yang akhirnya menjadi nyata.

Lalu, kira-kira ada yang penasaran gak ya rumah idaman saya dan suami kaya apa? 

Sebelumnya saya sudah pernah cerita disini, gak lupa saya juga share denah rumah impian kami seperti apa. Sejauh ini, saya dan suami berpendapat bahwa kami kurang cocok membeli rumah jadi buatan developer. Masing-masing dari kami memiliki alasan personal, mulai dari kurang puas sama desain bangunannya, kualitas bangunannya, sampai keinginan untuk beraktualisasi diri melalui mewujudkan rumah dari nol besar alias masih tanah sampai proses finishing. 

Suami menginginkan rumah dengan halaman yang luas dan bangunan rumah tepat berada di tengah-tengahnya. Saya menginginkan rumah yang bisa mengakomodir aktivitas kami, bisa berkebun, piknik, dan berkemah haha… Saya pribadi sangat tertantang dalam mewujudkan suasana rumah yang homey sekali… Setelah saya baca-baca berbagai artikel, salah satu kuncinya adalah membangun semuanya dari 0. Lalu mengisi rumah pelan-pelan, jangan langsung gabrukan (khilaf beli furniture dll, gak sadar rumahnya langsung penuh), juga memisahkan fungsi ruang yang satu dan lainnya secara jelas. Gak lupa punya kebun hihi.. Saya mau tanam cabe, bawang, jahe, tanaman untuk bumbu masak, tanam bunga, tanam pohon buah, seperti yang mama sama papa saya lakukan selama ini. 

Semuanya tentu butuh proses, proses capek nyari tanah di lokasi nyaman dan strategis, proses gambar desain rumahnya, proses nyari tukang buat bangun rumahnya, proses pilah-pilih material buat bangun rumahnya, sampai proses ngisi dan mempercantik rumahnya. Malah ada yang bilang, keseringan proses ngisi rumah (dengan perabotan) lebih kejam daripada proses bangun rumahnya sendiri haha.. Gak percaya? Coba hitung sendiri perabotan yang ada di dalam rumah kita sekarang, berapa juta dihabiskan untuk membelinya hehehe…

Salah satu inspirasi fasad rumah impian saya

Setelah banyak baca sana-sini, ngayal sepanjang malam haha, akhirnya kami menemukan konsep hunian impian kami. Pertama, dibangun di atas lahan yang cukup luas dan strategis. Kedua, dibangun dengan material ramah lingkungan dan berkonsep rumah tumbuh. Ketiga, fasad bangunan dibuat sederhana tapi dibuat ciamik di interiornya.

Faktor ketiga ini, bisa menimbulkan pertanyaan sih, kok biasa aja? Kenapa gak dibuat yang bagus, yang mewah? Nah, kami belajar banyak hal di beberapan tahun belakangan ini, mulai dari kesempatan kami berkunjung ke beberapa rumah kenalan kami yang secara ekonominya sudah jauh banget diatas kami. Tapi saat sampai depan rumahnya, kok ya rumahnya biasa banget ya? Walaupun berada di lokasi perumahan elit, tapi bentuk fasad rumahnya dan suasana di depan rumahnya biasaaa banget. 

Tapi…

Pas masuk ke dalam rumahnya, yaoloh… Siapa ini desain interiornya, siapaa????? Sampai saya bilang ke suami, kenapa ya orang-orang itu desain depan rumah sama bentuk bangunan kalau dilihat dari depan kok gak ada istimewanya tapi dalam rumahnya enak banget. Enak dalam artian, nyaman banget, homey, duh, susah banget dilukiskan dengan kata-kata.

Lalu suami saya jawab..  Itulah yang disebut mencari kenyamanan sejati bukan bangun rumah untuk pamer. Jleb!

Benar juga sih kalau dipikir-pikir, tapi buat yang punya rumah megah kayak istana juga gak salah, gak bisa ngejudge juga kalau ada yang pasang lampu kristal berat 1 ton di teras rumah lalu dibilang pamer (meskipun mungkin iya). Semua kembali ke selera dan kemampuan masing-masing.

Ahhh… Saya makin gak sabar, kapan ya rumah impian saya dan suami terwujud?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s