Uncategorized

Bola Salju

Saat ini, pukul 13:15 saya, suami, dan adik saya masih berada di ruang tunggu UGD RS. Bethsaida dengan perasaan gelisah. Kondisi papa saya yang makin hari makin memburuk, membuat kami sedari malam membantunya untuk mendapatkan perawatan medis terbaik.

Sejak minggu lalu, papa mengeluhkan sakit pada dada kirinya, nafasnya tersengal-sengal, lemah, dan nafsu makannya menurun drastis. Papa berinisiatif untuk ke klinik dekat rumah yang bekerja sama dengan BPJS, lalu dokter tersebutpun merujuk papa untuk segera mendapatkan penanganan dokter spesialis paru (Pulmonologist) di RS Annisa, sebagai rumah sakit rujukan. Setelah mengecek jadwal dokter di RS rujukan tsb, kami bersiap bawa papa hari Seninnya kesana (4 hari setelah kunjungan ke klinik).

Hari Senin yang dijadwalkanpun tiba, dan kami harus mengambil jalan keluar lain. Hal ini dikarenakan prosedur appointment Pulmonologist di RS rujukan tsb berbelit sekali. Akhirnya pada Senin siang, kami antar papa ke Poli Paru di RS. Siloam Karawaci dengan harapan bisa segera ditangani. Setelah diperiksa dokter dan melihat hasil rontgen, dokter mengungkapkan bahwa ada cairan di paru-paru kanan papa. Kondisi tepatnya, cairan tersebut telah memenuhi sebagian paru-paru kanan papa yang menyebabkan dirinya kesulitan bernafas normal. Obat-obatan pun diresepkan, antibiotikpun tak ketinggalan, hari itu kami membawa papa pulang dengan obat-obatan yang harus diminum selama 5 hari kedepan.

Hari Jumatnya, saya cek kembali kondisi papa yang ternyata tidak membaik. Sakit di dadanya hilang namun nafasnya masih tersengal-sengal dan kondisi badannya semakin lemah karena tidak ada asupan yang dapat masuk sama sekali. Singkatnya, untuk bernafas saja susah apalagi untuk mengunyah dan menelan makanan. Akhirnya di hari Jumat malam, adik saya inisiatif untuk bawa papa ke RS. Annisa, minimal untuk mencari second opinion mengenai kondisi papa. Namun sayang rumah sakit tsb menyerah dan meminta kami mengantar papa ke RS yang lebih lengkap peralatan penunjang mediknya.

Dari sana, adik saya gak patah semangat, dia antar papa ke RS. Sari Asih Karawaci dan beruntungnya disana papa masih bisa mendapatkan penanganan di IGD. Sempat diuap untuk melancarkan saluran pernafasannya, yang ternyata sia-sia. Dokter jaga disana pun mulai mengutarakan diagnosisnya mengenai kondisi papa dan meminta kami untuk membawa papa ke RS dengan peralatan lebih lengkap. Akhirnya malam itu, papa kembali pulang ke rumah. Saya yang tidak dapat mengantar papa karena juga sedang sakit hanya bisa mendoakannya di rumah agar papa segera mendapatkan perawatan yang paling baik. 

Jumat malam, hampir pukul 12:00 saya dan suami berdiskusi, besok pagi kita bawa papa ke rumah sakit yang paling baik. Membawa papa ke beberapa RS yang menerima pasien peserta BPJS, rasanya hanya wasting time dan tidak menyelesaikan masalah. Malam itu pun, saya dan suami berdoa sungguh-sungguh, minta diberikan petunjuk kemanakah kami harus bawa papa besok pagi. 

Sabtu paginya, saya terbangun. Entah bisikan darimana akhirnya saya yakin bawa papa ke RS. Bethsaida. Selain dekat dari rumah, pengalaman berobat dan rawat inap yang pernah dirasakan mama saya dan mama mertua saya, dinilai cukup baik. Suamipun tanya ke mama, waktu itu mama pakai Pulmonologist siapa disana. Untung mama masih ingat nama dokternya. Mama suruh kami segera bawa papa ke RS dan akhirnya pukul 09:30 kami sampai ke UGD RS. Bethsaida.

Beberapa perawat langsung menangani papa, cek sana-sini, dibantu juga oleh dokter Sanny yang baik dan dapat memberikan penjelasan komprehensif mengenai kondisi papa. Setelah melihat kondisi papa selama beberapa jam dan mempertimbangkan hasil tes darah, gula, dll. Dokter merujuk untuk penanganan dua dokter ahli, yaitu Internist dan Pulmonologist.

Sampai sejauh ini, kami sudah bertemu dengan Internist yang mengecek kondisi papa. Analisinya adalah gula darah papa melebihi batas normal yaitu 500 (normalnya 100-190). Hal ini yang memicu infeksi pada paru-paru dan jantung papa. Juga hasil cek kadar HB tidak menujukan pertanda baik, menyebabkan papa harus menerima transfusi HB. 

Jadi sebelum bertemu Pulmonologist, papa akan distabilkan dulu kondisinya. Sudah suntik insulin, diberikan bantuan pernafasan, serta diinfus. Saat ini papa masih dikarantina di UGD sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap. Rasanya beberapa hari ini, kami sekeluarga bagai menjalani hari-hari dalam mimpi. Gak pernah kebayang, kalau papa saya yang jarang komplain mengenai kondisi kesehatannya, sering konsumsi obat herbal, ternyata menyimpan suatu masalah yang diduga telah diderita sedari lama.

Bagai bola salju yang akhirnya membesar dan harus dikendalikan lajunya, kamipun menyerahkan penanganan terbaik kepada dokter untuk kesembuhan papa. Semoga papa cepat sembuh. Amin.

Advertisements

One thought on “Bola Salju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s