Uncategorized

Amazing Grace

Bulan Maret 2017 ini, tepat sudah sembilan tahun saya mengenal dan memilih ikut Kristus sebagai pedoman hidup saya. Rasanya kalau mengingat masa lalu tentang gimana bisa saya memilih dan memutuskan secara sadar untuk pindah agama dan menjalani keyakinan saya yang baru, pasti gak lama perasaan haru itu selalu datang dan bahkan sampai air mata ini gak bisa dibendung lagi deh. Saya ngerasa kaya dapat amazing grace, yang selalu saya syukuri sampai detik ini dan sampai kapanpun.

Dibesarkan oleh kedua orang tua saya yang merupakan penganut Buddhisme, saya telah merasakan ambigu sejak kecil. Sewaktu masih duduk di sekolah dasar, saya selalu mempertanyakan suatu hal kepada papa saya, kenapa papa gak ke Vihara? Kenapa papa punya altar di rumah? Orang Buddha tempat ibadahnya kan di Vihara, pa. Dan sampai detik inipun, seingat saya baik papa dan mama tidak pernah menjawab pertanyaan saya secara gamblang.

Saya juga ingat, bagaimana usaha mama dan papa mengenalkan saya pada Vihara dan agama yang kami yakini saat itu. Setiap minggu pagi, saya dan adik diantarkan ke Vihara dekat rumah, kami ikut kelas sekolah minggu yang di dalamnya ada prosesi baca paritta suci, mendengarkan cerita, dan ditutup dengan membaca paritta suci, serta snack time hehe.. Tapi kebiasaan itu gak berlangsung lama karena kami harus pindah rumah dan di komplek perumahaan kami yang baru, belum ada Vihara atau Cetya. Jadilah saya dan adik hanya menerima pengetahuan agama dari sekolah.

Sampai akhirnya pas saya SMP, di komplek rumah kami berdiri sebuah Cetya kecil. Dengan dibimbing tante saya, saya dan adik mulai rajin ke Vihara lagi, bahkan kami sempat jadi panitia dalam sebuah acara di Cetya karena kami memang cukup aktif terlibat di dalamnya. Tapi kekosongan itu hadir, saya nggak ngerasa benar-benar mengimani apa yang saya jalani, saya kayak ngerasa itu semua seperti sebuah keharusan, bukan sebuah kebutuhan, yang saya harus penuhi. Akhirnya, bersamaan dengan kesibukan saya menempuh ujian kelulusan SMP, kegiatan saya di Cetya itupun saya tinggalkan, lalu terlupakan seiring dengan berjalannya waktu.

Saat SMA, jalan Tuhan mengarahkan saya bersekolah di Sekolah Katolik, yang sempat saya sesali diawal-awal karena harus pindah zona nyaman dari 11 tahun di Sekolah Buddhis, trus pindah haluan. Tapi di sekolah inilah, saya ngerasa pelajaran agama adalah subject yang menyenangkan, yang saya tunggu-tunggu, dimana saya ingin mengetahui lebih jauh seperti apa agama Katolik itu, dan siapakah Tuhan Yesus yang selama ini hanya saya tau namanya tapi tidak mengerti betul seperti apa sosoknya. 

Disisi lain, papa saya juga sedang mengalami masa-masa dimana imannya gamang. Seperti saya, papa juga merasa ‘haus’ jiwanya dan papa berusaha mencari mata air untuk kesegaran jiwanya, mulai dari ikutan ibadah di gereja-gereja dekat rumah sampai yang letaknya jauh, papa jalani. Tapi papa tidak mendapatkan kegembiraan dihatinya, sampai akhirnya papa bisa-bisanya curhat sama Om dan Tante saya yang pemeluk agama Katolik. Dan disaat itu juga, papa mulai pergi ke gereja Katolik dekat rumah dan merasakan ada yang berbeda… Dari sanalah, papa ajak saya dan adik untuk ikut misa setiap minggu di gereja kami yang sederhana, yang lebih mirip gedung serba guna hihi.. Tapi disanalah iman saya bertumbuh subur sampai akhirnya kami bertiga dibaptis menjadi seorang Katolik setahun setelahnya (setelah ikut Katakumen), minus mama saya yang masih memeluk agama Buddha.

Perjalanan hidup saya setelah mengenal Kristus gak bisa dibilang mulus, problematika selalu menghampiri setiap waktu, tapi setidaknya pondasi hidup kami lebih kuat. Kami percaya Tuhan Yesus bersama kami dan kami bisa melewati semuanya, segala kesulitan, tantangan, dan berawal dari sanalah kami membiasakan diri untuk berdoa, mengucap syukur, meminta dan berharap kepada Tuhan. 

Begitupun ketika saya sangat merindu-rindukan sosok pendamping hidup. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh di umur saya yang keduapuluh, harapannya semoga sold out di tahun yang sama hehehe.. Dan empat bulan setelah saya mendoakannya, Tuhan hadirkan seseorang yang kini menjadi suami saya. Sosok yang setiap harinya mengingatkan saya, membimbing saya supaya dapat mencintai Tuhan lebih lagi dari waktu ke waktu, yang selalu menasehati saya bahwa Tuhan baik disegala kondisi apapun dan oleh karenanya saya harus tetap setia dan percaya akan setiap rencanaNya.

Terakhir saya cuma mau bilang, terlebih bagi diri saya sendiri bahwa saya bangga kalau saya telah mengenal Yesus Kristus, dan tinggal di dalam iman bersamaNya. Saya sadar bahwa ketika memutuskan ikut Kristus, gak lantas hidup jadi mudah, tapi saya yakin bahwa Tuhan telah merenda rancangan indah untuk saya dan saya percaya. 

Tuhan Yesus,

Terima kasih telah menemukan saya yang pernah hilang dan tersesat. Terima kasih karena telah banyak mengajari saya banyak hal selama saya mencari dan berkarya sampai dengan saat ini.

Terima kasih atas ajaran kasih tanpa batas, kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan yang kau ajarkan.

Terima kasih atas roh kudus dan firman-firmanMu yang selalu hadir disaat saya merasa bahagia, sedih, terguncang, yang membuat saya semakin percaya bahwa Kau selalu ada, hadir, dan selalu membimbingku.

Terima kasih Tuhan, Terima kasih.

Amin.

Advertisements