Lombok · Traveling

Lombok 2017: Menuju Gili Trawangan

Dari kemarin sebenarnya saya sudah coba nyicil nulis soal trip ke Lombok ini, tapi karena kelabilan saya yang super sekali jadilah tulisan tsb saya delete trus saya tulis ulang lagi šŸ˜ 

* * *

Sesaat sebelum take-off

Perjalanan kami dari Jakarta ke Lombok, awalnya diwarnai dengan hati mencelos karena takut flight kami didelay akibat hujan terus dari subuh. Tapi ternyata flight kami ontime (yeay, makin sayang deh sama Citilink). Setelah take off, saya lebih memilih memejamkan mata, selain karena masih ngantuk, juga karena saya gak tahan guncangan di dalam pesawat parah banget di 30 menit pertama akibat cuaca buruk. 

Saya iseng foto sesaat setelah keluar dari garbarata.
Di airport Lombok, cukup banyak disediakan spot khusus foto dengan backdrop lucu-lucu tapi sayang yang ngantri rame banget hehehe…

Sesampainya di Lombok International Airport – Praya, kami langsung menuju information desk untuk minta peta wisata Lombok dan baru setelahnya menuju loket tiket bis Damri untuk beli tiket bus jurusan Airport – Senggigi seharga Rp 35.000,- per orang. Tadinya kami mau makan dulu di airport soalnya suami sudah kelaperan sejak di pesawat tadi, namun kami batalkan ide tsb mengingat bus Damrinya sudah ready. 

Mandatory wefie šŸ‘«

Bus Damri di Lombok sendiri ada tiga tujuan yaitu Airport-Senggigi, Airport-Mataram, dan Airport-Selong, dengan tarif yang berbeda-beda. Perjalanan dari airport ke Senggigi memakan waktu 1,5jam dengan perhentian terakhir di Pasar Seni. Kalau kalian menginap di hotel sekitaran Senggigi, silahkan kasih tau drivernya mau turun di hotel apa, nanti sama drivernya diberhentikan pas depan hotel. 

Di rombongan bus kami ternyata ada 4 orang yang akhirnya sharing sewa mobil Avanza menuju Pelabuhan Bangsal dengan tarif Rp 250.000,- nanti tinggal bagi rata per kepala aja. Ide tsb datang dari driver bus Damri kami dengan tujuan supaya lebih murah ongkosnya, namun sayang karena kami udah kelaperan berat dan udah kebelet pipis juga, kami gak ikutan sharing dan lebih memilih turun di perhentian terakhir yaitu di Pasar Seni Senggigi dengan tujuan mau makan siang dulu. Alhasil, kami jadi dua orang penumpang bus terakhir sampai tujuan terakhir haha…

Sesampainya di tempat yang katanya merupakan Pasar Seni Senggigi, kami berdua cengok gitu šŸ˜Ø soalnya kok sepi banget ya. Di gambaran kami, pasar seni ya rame, penuh sama toko-toko artsy dan turis hilir mudik, lah ini?! SEPI. Yaudin, akhirnya kami berdua jalan kaki menyusuri jalan tsb sambil celingak-celinguk cari resto. Pas lagi jalan, sebuah taksi Bluebird berhenti di sebelah kami, disusul drivernya turun juga untuk menawarkan tumpangan. 

Suami saya langsung tanya, pakai argo tidak Pak? Pakai ternyata, yasudah akhirnya suami mengkomando saya untuk naik taksi saja langsung ke Pelabuhan Bangsal, cari makannya dekat pelabuhan saja. Di dalam taksi, kami minta drivernya untuk mampir sebentar di Pom Bensin karena kami kebelet pipis, akhirnya kita diberhentikan di sebuah musholla kecil karena katanya dekat situ gak ada pom bensin. 

Sepanjang perjalanan, suami banyak ngobrol sama Pak Sarham, driver taksi Bluebird tsb. Kami banyak banget dapat informasi soal Lombok. Sedangkan saya lebih memilih memandang keluar lewat jendela mobil, sepintas Jalan Raya Senggigi mengingatkan saya pada Jalan Raya Pelabuhan Ratu yang menuju Inna Samudra Beach Hotel. Jalannya beraspal mulus dengan kontur jalan menanjak, berliku, dan berbukit-bukit, serta pemandangannya sepanjang-panjangnya adalah garis pantai yang cantik, tapi di banding Pelabuhan Ratu, Senggigi jauh lebih cantik šŸ’™

Pak Sarham menawarkan kami untuk mampir sebentar di Malaka, semacam view point untuk lihat Gili dari kejauhan. Sayangnya langitnya sedang gak cerah jadi fotonya gelap šŸ˜ž  note: bayar parkir Rp 2.000,-
Terlihat Gili Trawangan (kanan), Gili Meno (tengah), dan Gili Air (kiri) dari kejauhan.
Taksi yang kami tumpangi. 

Mata kami benar-benar termanjakan banget selama perjalanan ke Pelabuhan, duh, rasanya saya ingin minta Pak Sarham berhenti berkali-kali setiap saya lihat pemandangan cantik haha… Tapi tenang kok, hal itu tidak saya lakukan šŸ˜šŸ˜šŸ˜ 

Saat kami hampir mendekati Pantai Kecinan, Pak Sarham menyarankan suami saya untuk tanya ke pengelola fastboat menuju Gili Trawangan di Kecinan. Maksudnya baik sih supaya kami lebih nyaman aja, dibandingkan harus naik public boat/ public fastboat di Pelabuhan Bangsal yang baru berangkat kalau kapalnya sudah penuh dan pastinya jarak tempuhnya lebih lama karena cuma kapal motor biasa. Suami setuju untuk tanya-tanya dulu, jadilah taksinya berbelok dulu di Kecinan. Selama suami tanya-tanya, saya di mobil saja sambil ngobrol sama Pak Sarham.

Lalu, gak berapa lama, suami kasih tau kalau naik fastboat one way dihargai 400k sedangkan kalau return 750k untuk satu kapal dan langsung berangkat, gak pakai tunggu penuh, waktu tempuh cuma 10 menit saja, lebih cepat jauh dibandingkan naik public boat yang waktu tempuhnya sekitar 40-50 menit, belum lagi ditambah dengan waktu nunggunya haha… Suami saya iseng-iseng tawar lagi dan deal 600k return, cus langsung berangkat šŸ˜‚

Note: tentu saja tarif naik fastboat jauh lebih mahal dari public boat ya. Kalau gak salah public boat cuma 15k deh dan public fastboat 85k. Masing-masing ada plus minusnya ya, seperti yang saya ceritain diatas. Eh, ada lagi ding, kalau kalian ke Pelabuhan Bangsal, mobil pengantar cuma ngedrop di depan aja, selanjutnya masih harus jalan kaki 500m atau naik cidomo. Nah, biasanya nih para kusir cidomo ini saling rebutan penumpang gitu. 

Kurang lebih beginilah rute kami. Yang penasaran dimana lokasi Pelabuhan Bangsal, letaknya masih maju terus dari Kecinan ya.

Karena suami saya udah rekues ke driver kapalnya supaya nyetirnya slow aja (baca: takut mabok laut dan sebelumnya lupa gak minum antimo) maka yang seharusnya 10 menit sudah sampai, molor jadi 15 menit hehehe… Testimoni kami selama naik fastboat ini ternyata menyenangkan, selain gak pakai lama dan ribet, saya suka sekali sama pemandangan yang terlihat selama membelah lautan *duren kali ah dibelah haha šŸ˜‚

Fastboat yang akan ngangkut kami ke Gili Trawangan. Gili T nya sendiri udah kelihatan tuh di depan. Kalau dihitung kilometer, katanya cuma 6km.
Mulai bergerak kapalnya.
Cantik ya warna air lautnya, tosca gitu šŸ’š
Mulai menjauh kapalnya, ngelihat pemandangan pohon kelapa adem banget ya.
Makin jauh, bukit-bukitnya makin terlihat. Air lautnya udah berubah warnanya dari tosca jadi dark blue – tanda kalau lautnya semakin dalam. Sayang saya gak foto banyak, serba salah, kehalang kepala dua bapak ini terus hahaha… Sampai saya pindah duduk dua kali, tetap aja kehalang semua muahha nasib, nasib, yaudah deh dibikmati saja sama mata langsung.

Ohya, kami ditemani tiga orang awal kapal gitu. Awalnya saya pikir kok banyak amat yang ngikut ya, maklum saya kan suka parno sama strangers gitu muahaha… Tapi pas mau menepi saya baru tau ternyata kalau cuma sendiri atau berdua yang ada bisa berabe. Jadi tugas yang satu yaitu driver, orang kedua nanti ke depan kapal untuk buang jangkar, yang ketiga untuk bantu narik kapal pakai tali gitu supaya bagian belakang kapal bisa bersandar sempurna di dermaga.

Sesampainya di dermaga, boro-boro mau foto-foto tanda welcome to Gili T, yang ada kami langsung cari yang jual makanan haha, laper buuukkk… Mata kita tertuju ke penjual nasi balap puyung yaitu nasi bungkus khas Lombok. Suami pilih yang pedas, saya yang enggak pedas, dan rasanya enyakkk…

Bentuk bungkusan nasi balap puyung ini mirip nasi jinggo di Bali, bentuknya kerucut. Harganya murah meriah cuma 10k aja perbungkusnya. Air minum kemasannya beli di warung terdekat 1500ml seharga 10k, emang di Gili apa-apa lebih mahal, bawanya susah kali ya harus naik boat dari Lombok.
Isi Nasi Balap Puyung, tentu ada nasi putih, mie goreng, tempe orek, serundeng, dan ayam suwir pedas. Btw ya, kenapa sih orang Bali atau Lombok masak ayam suwir tuh gak ada yang gak enak šŸ˜†

Setelah kenyang, barulah kami mencari lokasi penginapan kami. Menurut petugas hotel, sih gampang ya jalannya. Tapi kita yang pasti-pasti aja deh, pakai GPS dan viola…sampai dengan selamat, gak pake nyasar. 

Ceritanya saya potong sampai sini dulu ya, udah kepanjangan, sampai jumpa di edisi live in Gili T šŸ˜šŸ˜šŸ˜

Advertisements

One thought on “Lombok 2017: Menuju Gili Trawangan

Comments are closed.