Lombok · Traveling

Lombok 2017: Eksplor Gili Trawangan (Bagian 1)

Sudah baca tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana persiapan kami dan cara kami menuju Gili Trawangan? Jika sudah, maka sekarang saya giliran saya untuk bercerita lagi mengenai pengalaman kami selama dua hari menjelajah di Gili Trawangan 😊

Dimulai dari penginapan ya. Kami memilih Cotton Tree Cottages, penginapan unik bertema rice barn atau lumbung padi yang juga mengadopsi arsitektur rumah adat Suku Sasak, suku asli Lombok. Kami booking dua malam lewat Traveloka dengan harga yang affordable sekali (biasa dapat kode promo haha). Cara menuju CTC dari dermaga tidaklah sulit, kami pakai GPS juga sih (belajar dari pengalaman pas nyari hotel di Melaka lalu) dan dalam waktu 10 menit berjalan kaki, sampailah kami di Cotton Tree Cottages.

Penginapan di Gili T itu banyak sekali, tinggal menyesuaikan sama budget saja.
Cotton Tree Cottages

Kami disambut dengan friendly sekali oleh para staff CTC. Setelah mengkonfirmasi nama pemesan (sesimple itu, gak perlu tunjukin kertas pemesanan, identitas, atau apapun), kami dipersilahkan untuk langsung menuju lumbung kami. Kesan pertama saya begitu sampai di CTC, wuih, langsung suka 😍 hotelnya memang gak terlalu luas. Jumlah lumbungnya hanya beberapa, tapi atsmosfernya itu loh, ehm – sangat menyenangkan sekaligus bikin betah. 

The humble reception area
Terdapat beberapa jenis lumbung disini, tergantung kapasitas tamu. Kalau yang atapnya tinggi dan ada jendela atasnya itu, ada mezzanine segala yang memuat satu tempat tidur tambahan. Unik deh…
Mini swimming pool
Lumbung kami selama dua hari lengkap dengan sepeda sewaan πŸ˜†
Di dalam lumbung, material yang digunakan didominasi oleh bahan kayu…
Outdoor bathroom, namun sayangnya toiletriesnya berbayar (kecuali shower gel & sabun cuci tangan diberikan percuma) haha… Untung kami sudah bawa lengkap dari rumah *hemat πŸ˜‚

Tidak banyak yang kami lakukan di hari pertama, sore sampai malam kami hanya jalan-jalan. Sewa sepeda kami lakukan di hari kedua, nanggung soalnya 😜

Sebagian jalanan di Gili T sudah pakai konblok, tapi sebagian lagi (yang bagian belakang gili) masih berupa tanah dan pasir.
Suasana sore hari dI Gili Trawangan, ramai turis asing.
Begitu lihat pantai, rasanya kami berdua ingin sekali langsung nyebur. Tapi niat tsb diurungkan, gak bawa perlengkapannya soalnya hehehe…
Foto alay πŸ˜‚ idenya suami nih.
Mampir ke tempat penangkaran penyu.
Menjelang malam di Gili Trawangan…
Menjelang malam di dermaga.
Resto di sepanjang pantai mulai gelar meja untuk menyambut para tamu, tentunya mengusung tema candle light dinner donk ah biar romantis πŸ˜‚
Nonton bareng di depan Vila Ombak.
Malam itu kok sepi ya? Apa karena langitnya gelap seperti mau hujan, atau karena memang belumnya waktunya party dimulai? Hihi.. Entahlah πŸ˜…

Jalan-jalan kami ditutup dengan makan malam ala prasmanan gitu di Pasar Malam Gili Trawangan. Awalnya saya niat bungkus saja, makan di hotel, tapi suami bilang makan di tempat saja, sambil gabung sama pembeli yang kebanyakan bule juga. 

Saya pilih nasi ditambah ayam suwir, urap, dan sate ayam. Suami pilih nasi ditambah sayur kangkung dan sate ayam. Untuk makan malam tsb, kami merogoh kocek total Rp 50.000,- untuk berdua. Belum termasuk minum air kemasan 1500ml Rp 15.000,- (udah ah, gak usah protes, air minum disini memang harganya 2x lipat dibanding di Lombok/ Jakarta πŸ˜…).

Rasa makanannya? Kurang cocok dilidah saya 😞😞😞 terutama sate ayamnya. Saya gak paham, bumbu yang dipakai itu apa, intinya saya gak suka aja. Kalau suami sih fine2 aja, dia bilang mungkin cita rasa sate ayam di Gili memang gitu kali. 

Suasana di Pasar Malam Gili Trawangan, rata-rata makanan yang dijual adalah local food & seafood.

Ceritanya saya potong sampai sini ya hehehe… Di tulisan berikutnya, saya akan cerita pengalaman seru menjelajah Gili Trawangan dengan bersepeda πŸ˜„

Advertisements