Lombok · Traveling

Lombok 2017: Hari Terakhir di Lombok

Di hari keempat, setelah puas menyusuri pantai-pantai cantik di Selatan Lombok, kami menuju Jalan Raya Senggigi – dimana letak homestay terakhir yang akan kami inapi berada. Namun sebelum menuju homestay, kami makan siang dulu di Rm. Pak Jenggot di Senggigi dengan memesan dua ekor ayam taliwang, dua nasi, satu plecing kangkung, dan dua teh hangat (yang datang teh hangat manis padahal maksudnya tawar πŸ˜‚)

Ayam taliwang pedas manis satu ekor, bumbunya menyerap sempurna. Enak banget. Tapi kata si Tante Oka, ada yang lebih enak lagi.
Plecing Kangkung.

Rasanya lebih  daripada yang biasa kami makan di Serpong. Walaupun pesan yang tidak pedas, tetap saja perut saya panas sehabis makan menu diatas πŸ˜… untung saja saya bawa penangkalnya dari dokter.

Petunjuk arah The Semeton Homestay.

Setelah perut kenyang, kami langsung menuju homestay karena badan ini sudah lelah banget dan butuh mandi. Homestay terakhir yang kami inapi dipilihkan oleh suami saya. Kami awalnya pesan untuk hari pertama sesampainya di Lombok, tapi karena insiden reschedule flight oleh maskapai, maka kami meminta kebijaksanaan khusus dari pemilik homestay dan diperbolehkan switch hari selama masih ada kamar kosong. 

Rumah pemilik yang terasnya merangkap ruang tamu homestay.

Sebelumnya saat perjalanan dari Gili menuju Kuta di hari ketiga, kami memang sempatkan mampir ke homestay untuk konfirmasi ulang dan disambut ramah banget sama Tante Oka. Kami menjelaskan perihal kondisi kami dan sama-sama mengecek ketersediaan kamar untuk besok. Puji Tuhan memang ada kamar kosong dengan fasilitas AC (sesuai pesanan kami) jadi kami dapat bermalam di The Semeton Homestay -Senggigi.

Suasana asri di The Semeton Homestay.
Kamar kami yang tengah.

Pengalaman menginap kami di The Semeton Homestay, benar-benar berkesan. Kami disambut hangat seperti sedang berkunjung ke rumah Om-Tante sendiri, diperlakukan seperti keluarga, padahal sebelumnya kami agak sungkan kan karena kejadian diatas hehe… Om & Tante Oka senang mengobrol apa saja dengan kami, mulai dari Pariwisata di Lombok, soal keadaan ekonomi saat ini, politik, sampai isu-isu yang sedang hangat belakangan ini. Gak sadar, bahkan kami ngobrol sampai larut malam hahaha… Kalau gak ingat besoknya harus pulang lagi ke Jakarta, kayaknya kami ngobrol terus sampai subuh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Soal kenyamanan kamar, juga juara. Biar kata kamarnya sederhana, tapi baru kali ini saya bisa tidur pulas di tempat asing. Homy sekali loh, bahkan waktu honeymoon di Trans Luxury aja saya gak bisa tidur sepulas ini. Sarapan yang dibuatkan Tante Oka juga lumayan, sayangnya di Tante lagi gak bikin pancake 😁 Padahal menurut review di Traveloka, pancake bikinan Tante enak banget huhuhu… 

Nasi goreng telur buatan Tante Oka.

Ohya, kami juga ditemani Om Oka waktu mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Padahal awalnya kami cuma minta diberikan referensi saja hahaha, tapi si Tante gak kasih pergi sendiri. Kami bilang ke Om kalau kami mau beli beberapa kaos dan cemilan ringan. Lalu dengan mengendarai mobil yang kami rental, si Om menujukan untuk beli kaos di Sasaku dan beli cemilan di Toko Amalia 2, yang keduanya sama-sama terletak di Senggigi.

Sasaku, beberapa kali melewati toko ini, saya berekspektasi dalamnya luas dan lengkap kaya Krisna di Bali atau kaya Mirota/ Hamzah Batik di Yogyakarta. Kenyataannya, luas sih iya tokonya, tapi lengkap? tidak juga hahaha… Kayaknya pengrajin oleh-oleh di Lombok ini sedikit sekali, jadi varian barang yang dijual juga gak banyak jadi kesannya mainstream dan melompong. Kaos yang dijualpun, kualitasnya gak bagus-bagus banget, biasa aja. Tapi di Bali atau di Malioboro dengan harga yang sama, kamu bisa dapat barang lebih bagus atau dapat lebih banyak πŸ˜†

Toko Oleh-oleh Amelia 2, bentuknya kayak toko biasa tapi isinya yang dijual oleh-oleh. Ada snack, kacang disco, dodol & manosan rumput laut merk Phoenix, ting-ting kacang mete, kopi lombok, sambal lombok, sampai obat gosok dan madu. Disini enaknya ada sampel produk, jadi kita bisa cobain dulu. Kalau soal harga disini semua fixed price dan menurut saya sih agak mahal ya, ya tapi balik lagi, di Lombok gak ada yang murah juga πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯

Oleh-oleh yang dibeli di Toko Amelia.

Baik toko Sasaku maupun Toko Amelia, keduanya menyediakan jasa packing gratis pakai kardus. Tapi Sasaku memberlakukan minimum pembelanjaan 500k, sedangkan Toko Amelia tidak ada minimum pembelanjaan.

Keesokan harinya, kami sudah stand by nunggu bus Damri di gang homestay sejak pukul 08:30 pagi karena sesuai jadwal busnya akan berangkat dari Pasar Seni Senggigi jam 09:00 tapi setelah menunggu hampir 45 menit, bus Damrinya tidak kunjung datang. Suami pun mengambil keputusan untuk naik taksi saja ke bandaranya. Kami cegat taksi Bluebird (Lombok Taksi), tarifnya sebesar 180k mengingat lokasi bandara dari Senggigi memang jauh walaupun tanpa macet. 

* * *
Oke, demikian cerita liburan kami ke Lombok. Kayaknya dalam beberapa tulisan saya, kalian bisa menyimpulkan sendiri bahwa Lombok dan Gili menyimpan keindahan alam yang membuat kita terkagum-kagum. Namun dibalik itu, berlibur ke Lombok memerlukan biaya yang gak sedikit karena biaya hidup disini lumayan juga. Tapi jangan jadikan biaya sebuah kendala ya, karena pengalaman yang kita dapatkan jauh lebih berkesan.

Kalau ditanya mau gak balik lagi kesana, tentu saja mau. Tapi mungkin jika ada kesempatan, kami akan main-main ke Senaru & Sembalun, daerah di kaki Gunung Rinjani. Semoga saja bisa ya πŸ˜€

Sampai jumpa di trip kami berikutnya 😜 

Advertisements