Uncategorized

Hypersensitive

Kemarin ada seorang teman satu kantor yang nanya ke saya, “Van, kemarin gue lihat lo antri di kasir (Rs) Carolus. Ke Obgyn ya?” katanya. Saya hanya tertawa, lalu seraya memberikan penjelasan sebenar-benarnya kalau saya memang dalam sebulan terakhir hampir tiap minggu datang ke rumah sakit tsb untuk check up. Tapi bukan check up kandungan melainkan memeriksakan kondisi telinga kiri saya yang lagi (lagi) bermasalah 😁

Picture from goodsoundaudiology.com

Pasalnya, ini memang bukan kali pertama saya mengalami kondisi tidak mengenakan dengan telinga kiri saya. Pertama, mungkin sekitar satu tahun lalu, saya pernah mengalami sakit telinga kiri dimana nyeri dan berdenging, pas dicek Dokter THT ternyata ada infeksi. Maka pengobatannya pun diberikan obat-obatan dan gak lama sembuh. Kedua, kejadiannya sekitar bulan Desember 2016 lalu. Telinga kiri saya lagi-lagi berasa nyeri dan sakitnya lebih parah dari yang sebelumnya. Kali ini saya coba ganti dokter (masih di rumah sakit yang sama) dengan alasan karena Dokter yang terdahulu kurang cocok. Pas diperiksa, Dokter mengatakan bahwa saya mengalami Otomikosis (infeksi akibat jamur, lengkapnya googling sendiri ya). Saya shock, kok bisa ya, padahal saya termasuk rajin bersihin telinga. Saat diberikan penjelasan oleh Dokter, wah, saya baru tau kalau selama ini cara saya untuk membersihkan telinga kurang tepat. Cara membersihkan telinga untuk sehari-hari adalah (boleh) menggunakan cotton buds yang WAJIB dioleskan antiseptik, baik betadine maupun alkohol 70%. Kalau gak pakai antiseptik, gak boleh, begitu kata Dokter ke saya. 
Otomikosis yang saya alami terjadi karena terlalu heboh bersihin telinga tanpa antiseptik, lalu membuat dinding telinga lecet/ luka. Seiring dengan rutinitas cuci muka, mandi, dll yang menyebabkan air masuk ke telinga, maka jadilah bagian yang luka tadi terinfeksi dan rentan banget kena bakteri yang menyebabkan jamur. Untunglah saya tipe orang yang lebih baik segera periksa daripada makin parah, ternyata benar, pas diperiksa syukurlah jamurnya hanya sedikit dan dapat diobati hanya dengan penggunaan antiseptik dan salep khusus. Dengan perawatan intensif selama 10 hari, masalah saya pun selesai dan tidak pernah ada keluhan lagi. 

Sampai akhirnya kejadian ketiga, terjadi setelah kembali dari Lombok kemarin… Saya merasakan ada yang mengganjal di telinga kiri saya (lagi). Dalam hati saya, yaelah, apaan lagi nih. Awalnya saya pikir, oh mungkin kemasukan air dan kejebak di dalam, mengingat memang telinga kiri saya agak aneh strukturnya hahaha… Tapi, kok didiamkan beberapa hari malah makin nyeri dan pendengaran saya agak berkurang, akhirnya saya minta ditemani suami ke Dokter THT lagi. Pas habis dibersihkan dan diperiksa, ya amplop!!! Otomikosis lagi 😰😰😰 ditambah dengan luka disekeliling dinding telinga. Padahal saya sudah gak pernah lagi bersihin telinga sering-sering dan selalu pakai antiseptik. Jadi apa yang salah?

Oh, rupanya setelah saya menjelaskan kalau belum lama baru kembali dari Lombok ditambah selama disana gak pernah gak berenang, baik di kolam renang maupun di laut. Dugaan Dokter semakin kuat bahwa ada bakteri yang masuk saat saya melakukan aktivitas air tsb dan pembersihannya kurang maksimal. Ya, sebenarnya saya sudah bersihkan sebaik mungkin tapi balik lagi karena memang bawaan lahir struktur telinga kiri saya agak aneh bin ajaib, makanya lebih rentan sama hal-hal kayak gini, dibandingkan dengan yang kanan. Makanya seumur hidup, telinga kanan saya Puji Tuhan selalu aman sentosa. Singkatnya, pengobatan kali ini pun sama persis seperti yang sebelumnya. Saya hanya diresepkan tambahan cairan H2O2 untuk membersihkan infeksi telinga dan sisanya masih pakai antiseptik dan salep yang masih saya punya.

Seminggu kemudian, gak ada perubahan sama telinga kiri saya, yang ada malah makin sakit huhuhu… Sampai saya teriak-teriak kesakitan deh 😭😭😭 akhirnya saya kembali lagi ke Dokter THT. Seperti biasa, telinga saya dibersihkan, dilihat dengan micro kamera, dan ternyata setelah kotoran berhasil dikeluarkan dengan susah payah – sampai bikin saya pening dan menurunkan keseimbangan saya juga, ternyata jreng…jreng…. Ada rembesan di gendang telinga saya!!! Kok bisaaaa??? 

Syok, muka saya pucat – sebuah pertanyaan besar di kepala saya bermunculan, tapi yang utama adalah… APA GENDANG TELINGA SAYA RUSAK???

Awww, tidak 😭😭😭

Tapi syukurlah tidak seburuk apa yang saya pikirkan, gendang telinga saya masih sangat baik. Kalau kemarin-kemarin diagnosa dokter adalah Otomikosis, maka kunjungan saya kali ini, Dokter mempertegas diagnosa saya menjadi Otitis Media (infeksi telinga bagian tengah). Akhirnya, dokter memasangkan tampon di telinga saya berupa kain kasa yang diberi antiseptik dan obat, lalu disematkan ke dalam telinga dan baru boleh dikeluarkan 12 jam kemudian. Selain itu, saya juga diresepkan antibiotik dan obat nyeri yang diminum kalau nyeri datang, juga obat tetes telinga yang lumayan mahal harganya huhu… Gak lupa, saya dipesankan untuk kembali datang seminggu kemudian.

Telinga kiri saya ditutup selama 12 jam.
Obat tetes telinga, made in Japan. Harganya juga lumayan mahal huhuhu…

Setelah kunjungan saya tsb, kondisi telinga saya jauh membaik meskipun pendengaran saya masih terganggu, suara yang masuk terdengar pelan. Puncaknya, dua hari belakangan ini, nyeri itu datang dan pergi sesuka hati. Pheww, never ending amat sih judulnya. Lelah banget adek ini, Bang…!!! 😣 Akhirnya hari ini, saya kembali ke Dokter THT (sudah tiga minggu berturut-turut nih). Seperti biasa, dokter bersihkan telinga saya DENGAN SUSAH PAYAH, sampai kotoran yang ubnormal bentuknya itu keluar (maaf ya kalau annoying) dan saya ngerasa pendengaran saya langsung balik normal lagi… Disisi lain, efek suka dibersihin telinga gini, lama-lama saya biasa juga pas tindakan irrigation, vacum, dll udah gak mabok-mabok amat kayak waktu pertama kali hihihi… Pas dilihat pakai micro kamera, Puji Tuhan, infeksinya tinggal sedikit. Dan untuk mempercepat penyembuhan, Dokter memakaikan tampon berisi kain kasa, antiseptik, dan obat lagi untuk telinga saya dan baru boleh dibuka selama 2 hari. Mantap…!!! Mantap pas kasanya dimasukin ke telinga, huhuhu, gak nyaman banget, lebih nggak nyaman daripada yang pertama. 

Saya juga diresepkan antibiotik lain yang berbeda dari sebelumnya dan beberapa obat jagaan jikalau suatu hari saya kena flu dll selama travelling (ini request saya pribadi) karena selama pengobatan telinga saya, otomatis saya harus menjaga supaya tenggorokan dan hidung saya aman sentosa. Kalau enggak, bisa berpengaruh ke penyembuhan telinga saya. 

Sekian cerita saya soal telinga kiri saya – yang kaya dokter bukan sensitif lagi (dia bilang sensitif waktu kunjungan kedua) tapi di kunjungan terakhir, Dokter meralat dan melabeli ulang telinga saya dengan kata HYPERSENSITIVE. Entahlah, harus bangga atau sedih πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯

Doakan semoga cepat pulih ya… Amin. 

Advertisements

One thought on “Hypersensitive

Comments are closed.