Singapore · Traveling

Singapore 2017: Pengalaman Hari Pertama

Pagi itu, antrian konter imigrasi di Bandara Soekarno – Hatta lumayan panjang, sampai-sampai beberapa konter khusus warga negara asing dialih-fungsikan untuk melayani WNI yang kebanyakan adalah rombongan umroh. Padahal autogate di bandara sudah ada loh, tetapi kenapa tidak ada petugas yang mengarahkan ya? Apa mungkin rusak? Entahlah, hehehe…

Proses imigrasi kami gak ada kendala sama sekali, senang deh, akhirnya paspor kami ketambahan cap lagi πŸ˜‚ Tapi, ternyata saat pemeriksaan custom terakhir oleh petugas Avstec, kami dapat pengalaman baru. Mau tau? Pertama, saya diminta ‘bongkar’ koper karena petugas menemukan kaleng semprot saat koper saya melewati mesin x-ray, yasudah dengan sedikit kerempongan, saya buka juga koper tsb. Saya langsung ambil satu plastik perlengkapan mandi kami, yang mana di dalamnya terdapat sunscreen Loreal saya yang dikemas dalam kaleng spray, lalu diteliti sama petugas. Dari awal saya memang ragu sih mau bawa sunscreen tsb karena masuk kategori aerosol yang mudah terbakar. Tapi saya pede aja untuk bawa karena cuma 64g, toh masih dalam batas aman, pikir saya. Untung saja, oleh petugas sunscreen saya diloloskan πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ katanya gak apa-apa kok, boleh dibawa. Sip deh, makasi ya Pak! 

Pengalaman kedua, dialami oleh suami saya. Jadi saat saya diminta buka koper oleh petugas, suami saya diminta melewati metal detector beberapa kali karena dicurigai ada benda metal yang menempel di badan suami saya. Ternyata ada pulpen yang suami saya pikir gak apa-apa hahaha, ternyata mata penanya mengandung logam jadi bermasalah. Akhirnya, setelah pulpennya diberikan ke petugas, suami diminta melewati metal detector lagi, eh masih bunyi. Suami saya panik, duh, apaaan lagi nih yang masih nempel 😩😩😩 akhirnya digiring petugas deh untuk diperiksa disebuah tabung gitu (saya sih gak perhatiin dia, saya sibuk sama acara bongkar koper hahaha), hasilnya menunjukan di sepatu suami dicurigai ada benda logam. Fast forward, gak ada apa-apa juga sih, jadi anggaplah pengalaman kena random checking ya hahaha, tapi suami diminta menunjukan paspor dan dicatat data-datanya serta tujuan mau kemana. Lumayan sih dia jadi deg-deg-ser gitu πŸ˜„

Huh, ikutan cape gak sampai sini? 

Lanjut ya… Perjalanan dari Jakarta ke Singapore memakan waktu selama 1 jam 50 menit. Saya dan suami kali ini duduk terpisah di dalam pesawat, suami duduk di seat baris ke-11, sedangkan saya jauh di belakang, di baris ke-23. Gak lama setelah pesawat lepas landas, seluruh penumpang dibagikan kartu imigrasi yang harus diisi oleh Pramugari (makanya si suami saya bekali pulpen tadi untuk isi kartu ini). Setelah kartunya diisi lengkap, kita simpan, nanti kita serahkan bersama paspor kepada petugas imigrasi Singapura. 

Kartu Imigrasi Singapura
Saya juga pesan in-flight meal sama petugas. Nasi lemak seharga 55k dan Aqua botol seharga 15k.
Ukurannya pas banget untuk ganjal perut, rasa masakannya juga lumayan kok.

Karena kami naik maskapai Air Asia, pesawat kami landing di Terminal 1 Changi Airport. Kesan pertama begitu menginjakan kaki di arrival hall, ih, wangi banget nih airport hihihi, norak ya πŸ˜‚ Pas ketemu tap water, suami buru-buru isi botol minum kosong yang kami bawa dari rumah. Lumayan bisa menghemat biaya beli minum di SG.

Arrival hall – Changi Airport

Sebelum menuju antrian konter imigrasi Singapura, kami ambil beberapa brosur wisata dan peta yang tersedia. Proses imigrasi lancar banget, gak ditanya aneh-aneh sama petugasnya, kuncinya yaitu isi kartu imigrasinya selengkap-lengkapnya ya. Setelah itu, kami naik skytrain (gratis) menuju Terminal 3, dimana kami akan naik MRT ke kota. Sampai di Terminal 3, kami membeli 2 kartu Singapore Tourist Pass Plus (STP+) seharga @ $38 yang berlaku 3 hari dan membeli simcard merk Singtel seharga $38. Belum apa-apa sudah keluar uang lebih dari $100 huhuhu… 

Singapore Tourist Pass Plus. 
Peta MRT & LRT yang menjadi panduan kami selama di Singapore.

MRT dari Changi Airport akan berakhir di Station Tanah Merah, untuk menuju kota keluarlah ke arah kiri dan naik MRT lagi arah Joo Koon. Dari sana, silahkan turun di station yang terdekat dengan penginapan kita atau turunlah di interchange station untuk berpindah MRT line. So far, kami gak pernah salah naik MRT selama disini, semua panduan dan petunjuk dipasang sangat jelas. Cuma, selama di Singapore, kami gempor aja kalau kemana-mana naik MRT, jalan menuju stationnya cukup jauh, belum lagi naik-turun tangga atau escalators untuk menuju platform. Makanya perlu di combine dengan naik bus, halte bus lebih dekat soalnya. 

* * *

Sekarang bahas penginapan ya, kami memilih Hotel Bencoolen (47 Bencoolen Street) untuk bermalam di hari pertama dan kedua. Kami memesan kamar standar – twin bed, tanpa sarapan. Cara menuju hotelnya mudah sekali kok, turun di Station MRT Bras Basah ambil exit D. Lalu jalan kaki ke arah Rendezvous Hotel trus belok kanan deh. Di depan bangunan hotelnya ada pengerjaan proyek MRT Bencoolen jadi agak ketutupan pintu hotelnya, tapi mudah ditemukan kok, patokannya di depan hotel V Bencoolen. 

Sesampainya di lobby hotel, kami disambut seorang uncle yang fasih berbahasa Indonesia, kami diberikan rekomendasi tempat makan sekitaran hotel, kebetulan banget memang sudah jamnya makan kan. Setelah urus check-in, kami menuju kamar di lantai 2 dimana satu level dengan jacuzzi, spa, dan garden, cuma kami gak sempat lihat apalagi pakai fasilitasnya. Pas sampai kamar, lumayan happy karena cukup spacious (kalau gak salah luasnya 18m2). Lantainya berkarpet, amenities, toiletries juga cukup lengkap untuk standar hotel bintang 3 dan yang terpenting, kamar kami dilengkapi dengan jendela walaupun gak ada pemandangan menarik tapi senang aja bisa dapat sinar matahari masuk ke dalam kamar. Over all, selama dua malam kami nyaman banget tinggal di Hotel Bencoolen. 

Pintu masuk Hotel Bencoolen.
Kamar kami di Hotel Bencoolen.
Kalau mau tidur, ranjang twin bednya kami jadikan satu hehehe…

* * *

Atas saran dari Uncle di Hotel Bencoolen, kami jalan kaki cari tempat makan dengan petunjuk di belakang Hotel Ibis. Padahal di depan hotel ada Food Republic, cuma suami lebih memilih ikuti saran si uncle sambil menikmati panasnya matahari sore Singapura 😁 Akhirnya setelah jalan kaki 10 menit, sampai juga kami di…

ALBERT CENTRE

Wah, tempat makan berupa hawker centre/ pujasera/ medan selera ini, memang masuk ke dalam list tempat makan yang harus dikunjungi karena terkenal banyak varian dan harganya yang terjangkau. Gak lama-lama, suami memesan menu nasi lemak dan saya hanya beli soya bean milk (es susu kacang) karena masih kenyang. 

Suasana di Albert Centre.
Nasi lemas dengan lauk sosis, fishcake, dan telur, diharga $2,2 saja.
Soya bean milk, seharga $1,2

Di depan Albert Centre ini adalah pintu belakang Bugis Street (tempat belanja), duh, belum apa-apa sudah banyak godaan. Soalnya di dalam Bugis Street ini banyak toko baju korea gitu, cuma memang dari awal saya gak niat belanja disini jadi pakai kacamata kuda aja deh hehehe πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Dari Bugis Street, kami kembali ke hotel karena saya perlu mandi dulu sambil kita sepanjang jalan itu diskusi mau kemana haha… Gini nih, kalau gak bikin itinerary, jadi serba galau, tapi akhirnya setelah suami abis baca brosur wisata diputuskannlah untuk ke Gardens by The Bay, sekalian kami mau nonton Garden Rhapsody Show yang lagi temanya Star Wars. 

* * *

Cara menuju Gardens by The Bay, kami naik MRT dari Station Bras Basah lalu turun di Station Bayfront dan jalan kaki mengikuti lokasi Supertree Grove berada, tentunya sambil jalan, sambil foto-foto hihi 😍😍😍 Kami senang banget deh karena Singapura gak main-main sewaktu mempromosikan kotanya sebagai garden city, karena taman-taman kotanya memang dirawat sedemikian rupa. Nanti di tulisan saya yang lainnya, saya tulis juga mengenai taman-taman yang kami kunjungi selama di Singapura ya. Ohya, masuk Gardens by The Bay ini gratis ya, kecuali jika kita mau masuk ke conservatory seperti Flower Dome, Cloud Forest, atau naik OCBC Skyway (jembatan yang menghubungkan super tree).

Keluar station MRT, langsung ikuti petunjuk jalan ke arah Gardens by The Bay.
Sore di Singapura, senang deh lihat banyak warga kota yang beraktivitas santai disini, entah untuk jalan-jalan, main sama anak, atau sekedar duduk santai diatas rumput.
Marina Bay Sands.
Peta Gardens by The Bay, ternyata Gardens by The Bay itu luas banget!
Dragonfly lake…
Supertree Grove yang memukau…
Satu-satunya foto saya dengan background Supertree yang agak mendingan πŸ˜₯  sisanya entah buram atau terlalu banyak background orang berfoto di sisi saya.

Awalnya kami berniat mau coba naik OCBC Skyway, tapi karena sebentar lagi Rhapsody Shownya mulai jadi niatan itu kami urungkan. Saran saya, untuk menikmati show ini coba duduk di bawah supertree yang pojok-pojok gitu karena selain gak seramai di tengah, juga bisa coba nonton shownya sambil tiduran. Cobain deh, it was totally awesome!

Sebelum pertunjukan Garden Rhapsody dimulai.
Garis kuning kehijauan yang tertangkap kamera itu adalah OCBC Skyway.
Show dimulai, wooaaaaa…. 😍😍😍
Awesome!
Kalian harus saksikan sendiri ya shownya, karena sebagus-bagusnya tangkapan lensa kamera, lebih bagus saat disaksikan langsung oleh kedua mata sendiri hihi…
Supertree Grove…
Diambil sesaat sebelum show berakhir, so mystique banget ya…

Sehabis shownya selesai, kita gak langsung pulang, suami masih mau hunting foto dulu karena sudah mulai sepi pengunjung. Sedangkan saya, memilih nonton Youths Celebration yang menampilkan penyanyi muda ganteng bersuara merdu hihi… Saya ikutan duduk di lantai bersama para pengunjung lain, asik deh begini, malam-malam dibawah cahaya Supertree Grove, dengerin pertunjukan akustik, ciamik banget. 

Youths Celebration, diadakan selama 2 hari yaitu pada 19-20 May 2017.
Biar kata shownya gak terlalu besar, tapi kualitas soundsystem dan lightingnya bagus loh.

Setelah puas, kami kembali ke hotel naik MRT namun sebelumnya kami mampir ke Albert Centre (lagi) karena saya belum makan malam. Menu makan malam saya sama persis seperti yang tadi sore suami pesan. 

* * *

Hari pertama di Singapore, saya bersyukur banget akhirnya bisa ke Gardens by The Bay meskipun belum berjodoh saat Festival Tulip Mania berlangsung, tapi no problem karena begini saja saya sudah senang sekali. Mungkin next visit, saya akan coba ke Flower Dome & Cloud Forest sekalian 😊

Oke, sampai jumpa di tulisan selanjutnya ya mengenai hari kedua kami selama di Singapura 😍

Foto berdua yang agak mendingan. Si suami masih setia sama his signature t-shirt, warnanya selalu putih.

Notes:

  1. Untuk yang naik maskapai AA, jika kalian pesan tiket lewat travel agent atau situs booking online, sepengalaman saya, gak bisa pre-order meal. Jadi beli langsung di atas pesawat, dengan harga yang lebih mahal dan gak free drink. Tapi kalau pesan tiketnya di web/apps AA, bisa kok.
  2. Awalnya kami ingin membeli Singapore Tourist Pass biasa saja bukan yang Plus+ karena jauh lebih murah. Tapi karena kami gak menemukan konternya yang sering dibahas di blog travel blogger, akhirnya pas kami ketemu Tourist Counter yang ramai orang antri di Terminal 3, kami langsung beli aja πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘. Nah, pas pulang ke Jakarta di Terminal 2 Changi dekat MRT Station, baru deh ketemu Ticketing Counter dengan banner gambar kartu STP warna putih (STP biasa). Menyesal? Tadinya sih karena harus bayar lebih mahal $18 per kartu, tapi kalau beli STP+ kami dapat beberapa privileges berupa voucher makan dan admission free to entry listed attractions. 
  3. Catat baik-baik ya, kalau kamu mau beli simscard Singtel, JANGAN BELI DI AIRPORT. Beli aja setelah sampai di kota tepatnya di Seven Eleven, ada stiker Singtel – Hi Card Tourist $15, beli itu aja hemat. Jangan kaya kami, wasted money $38 untuk beli simcard hiks 😭😭😭 Kami beli di tempat kami beli STP+ dan duileh, gak ada ramah-ramahnya pula petugasnya. 
Advertisements