Singapore · Traveling

Singapore 2017: Dari Taman ke Taman, Hingga ke Merlion (#2)

Setelah berpeluh keringat sehabis mengelilingi Singapore Botanical Garden, kami kembali lagi ke Ion Orchad untuk redeem voucher makan siang kami di Crave Resto. Restonya terletak di B4, mudah ditemukan karena satu lantai itu isinya tempat jual makan semua. 

Crave terkenal dengan Adam Road nasi lemak by Selera Rasa yang katanya menjadi menu favorit Sultan Brunei setiap kali berkunjung ke Singapore dan juga pernah disajikan sebagai menu makanan untuk menjamu Presiden Jokowi saat kunjungan kenegaraan ke Singapore. Jadi penasaran gimana lezatnya?! Ehm, mari kita redeem dulu vouchernya…

Saat redeem voucher, berkali-kali petugasnya bilang kalau kita hanya dapat free basic nasi lemak, gak mau tambah chicken wings atau otah-otah? Kita jawab enggak. Eh, doi masih penasaran, lalu bertanya hal yang sama lagi. Dikira kita gak paham kali ya haha… Gak perlu tambah menu pendampingpun, menurut kami yang kami dapat sudah lebih dari cukup kok. Basic nasi lemaknya sendiri, terdiri dari nasi yang dimasak dari beras basmati yang ukurannya lebih panjang dibandingkan dengan beras ukuran normal, lalu ada telur, ikan teri, sambal, dan irisan ketimun. Harga basic nasi lemak yang kami dapat sekitaran $4,9 ditambah dengan segelas iced calamansi (jeruk kalamansi, sama seperti yang ada di Belitung), cukup membuat kami kekenyangan sampai sore.

Makan siang kami…

Setelah makan siang, kami kembali ke station MRT Orchad untuk melanjutkan jalan-jalan kami ke Chinese Garden yang ternyata jauh banget hahaha… Naik MRT saja harus melewati hampir 10 stop, gak nyampe-nyampe rasanya 😁😁😁 Tapi seperti Singapore Botanical Garden, begitu keluar dari station MRT langsung deh sampai ke pintu masuk Chinese Garden yang juga merupakan pintu masuk Japanese Garden.

Rata-rata teman-teman saya yang frekuensi bolak-balik ke Singapura sudah lumayan sering, malah gak pernah ke Chinese Garden. Mereka lebih suka ketempat belanja πŸ˜‚ atau mungkin untuk yang baru pertama kali ke Singapura, pasti lebih memilih ke Haji Lane atau Kampung Glam kali ya daripada kesini πŸ˜‚ Pokoknya, biarin ah dibilang gak ngehist, yang penting saya senang, suami ikutan senang karena berhasil hunting foto yang banyak. Oleh karena itu, kebanyakan orang yang datang kesini adalah warga lokal yang ingin berolahraga, entah lari, jalan santai, atau bersepeda sambil putar musik kencang dari handphone hahaha… 

Masuk ke Chinese & Japanese Garden tidak dipungut biaya sepeserpun, tapi jangan membayangkan kalau tempatnya jelek, kumuh, atau bahkan tidak terawat ya karena jauh banget dari kata-kata tsb. Disini semua bangunannya terawat, tidak ada sampah berserakan, fasilitas seperti toilet dan tap water pun disediakan gratis.

Keluar station MRT, kita hanya perlu berjalan sedikit saja sampai pintu masuk.
Pintu masuk Chinese & Japanese Garden.
Sampai sekarang, saya masih belum paham, sepeda-sepeda ini disewakan atau dipinjamkan ya? Gak ada keterangan apapun soalnya dan gak ada loket rental sepeda juga. Apa pesannya via apps? – masih bertanya-tanya sendiri.
Jembatan merah.
Setelah melewati jembatan merah, kita berada dipersimpangan galau hahaha… Belok kiri ke Japanese Garden atau pilih belok kanan ke Chinese Garden?

Kami memilih untuk mengeksplor Chinese Garden dahulu, tapi karena terlalu luasnya taman ini, akhirnya kami malah memutuskan untuk gak mampir ke Japanese Garden hihihi… Kita langsung lihat yuk foto-foto yang kami ambil selama di Chinese Garden πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Highrise Pagoda…
Highrise pagoda, dari sudut yang berbeda…
8 Heroes – taman berisi patung tokoh-tokoh Cina.
Satu dari dua patung tokoh yang saya kenali, The Princess Warrior – Hua Mulan. Kisah Mulan sendiri diangkat menjadi sebuah film oleh Disney.
Confucius Statue… Confucius sendiri adalah seorang guru dan orang bijak dari Tiongkok yang terkenal dengan filosofi sosialnya.
Sungguh sore hari yang terik dan menyilaukan πŸ˜’
The Stone boat. Cantik ya bangunannya, sayang silau banget.
Bangunan disebelah kanan foto adalah Tea House Pavilion.
Teduh…
Jalan kaki lagi, yuk!
The Twin Pagoda.
Whitr Rainbow Bridge, yang fotogenic…
Foto lagi ah jembatannya hehehe… πŸ˜†
Kali ini foto jembatannya ditambah model abal-abal 😜😜😜
Tulisan cina yang sama sekali gak kita mengerti artinya.
Pintu masuk Garden Countryard. Kita skip masuk ke dalam sini.

Berhubung waktu sudah semakin sore, kami memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan kami di Chinese Garden. Kami mengambil jalan memutar dan gak sengaja melewati Bonsai Garden, ehm, sayang banget ya kalau gak masuk kedalamnya. Ya udah deh, mampir bentaran dulu untuk lihat koleksi bonsainya sekalian foto-foto 😊😊😊

Bagus banget fasadnya 😍
Pintu masuk Bonsai Garden.
Minta difotoin suami hehehe…
Koleksi bonsai yang beranake ragam.
Deretan bonsai di sepanjang jalan.
Kok jembatan gini aja bisa ketjeh banget ya kalau difoto?
Eh ada gazebo, kalau ada gazebo kayak gini di depan rumah bisa tiap hari dipakai buat santai-santai ya.

Sebelum meninggalkan Chinese Garden, kita istirahat sebentar dulu ya sambil habisin ransum kita. Tadinya kita mau istirahat di pinggir danau gitu, eh pas kita mendekat kok ada biawaknya ya? Err, seram ah. Ganti posisi aja deh. 

Danau setenang ini, bisa ada biawaknya 😧

Uhm, senang banget rasanya bisa main-main ke Chinese Garden. Taman yang dibangun tahun 1975 dan dirancang oleh arsitek asal Taiwan ini, bagaikan tempat pelarian diri yang tepat dari hingar-bingar keramaian Singapura. 

Sehabis ini, kemana tujuan saya dan suami?

Yes, Merlion, icon nya Singapura!

Nantikan pada tulisan berikutnya ya, saya mau senam jari dulu hahaha… See you!

Advertisements