Uncategorized

Waktu Kuliah

Sekarang ini kalau melihat dua sepupu saya yang sebentar lagi akan masuk kuliah, perasaan saya mendadak haru sekaligus bersyukur karena mereka punya kesempatan yang lebih baik daripada saat saya diposisi yang sama beberapa tahun lalu. 

Dua sepupu saya dapat memilih universitas dan jurusan yang mereka inginkan tanpa harus memusingkan banyak hal. Berbanding terbalik dengan saya, yang bahkan di pertengahan kelas 3 SMK, masih bingung mau gimana. Mau full 100% kerja selepas lulus sekolah, tapi hati ini gak rela. Tapi mau full 100% kuliah juga gak bisa karena kendala biaya. Saat itu yang ada cuma sedih deh, dalam hati kecil saya, saya juga mau kuliah kaya anak-anak lain 😭

Yang saya ingat, tiga kali saya dengar ada pengumuman beasiswa dari Universitas gitu dari pihak sekolah. Salah satunya, saya pernah ikut tes masuknya tapi ternyata beasiswa yang dimaksud tidak full dan hanya berupa potongan. Dua lainnya, pernah saya tanyakan secara pribadi ke pihak sekolah mengenai chance saya untuk coba apply kesana, tapi dimentahkan oleh Guru BK saya, hiks. Alasannya masuk akal kok karena kampusnya jauh (satu di Kuningan dan satu lagi di Cikarang) dan meskipun keduanya menawarkan beasiswa full tapi saya tetap perlu ongkos ke kampus, dll. Sedangkan guru BK saya melihat bahwa saat itu yang terpenting adalah bagaimana saya bisa cepat lulus, dapat kerja, dan bantu perekonomian keluarga saya 😞

Jujur saya sedih banget-bangetan. Rasanya saat itu dunia saya jungkir balik gak karuan, disatu sisi saya harus bantu keluarga saya, tapi disisi lain, saya juga harus berjuang untuk mimpi-mimpi saya. Dan bisa kuliah, lulus dan dapat gelar Sarjana adalah salah satu jembatan menuju impian saya. 

Ditengah-tengah kerisauan itu, bisa-bisanya saya ngobrol dengan salah satu guru saya di sekolah (bukan guru BK ya), beliau cerita soal salah satu mantan muridnya yang ceritanya gak beda jauh sama saya. Tapi akhirnya dia nekad kuliah sambil kerja di salah satu bank swasta, guru saya tanya ke saya, “kamu tebak, dia kuliah dimana?” Saya mikir bentar, lalu jawab, “UPH.” Guru saya ketawa, dia bilang bukan, sambil ingatkan saya bahwa kondisi ekonomi keluarga muridnya dulu gak beda jauh sama saya sekarang. Ternyata jawaban yang benar adalah nama kampus tempat saya kuliah. Satu pesan guru saya yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah bahwa sukses gak ditentukan dari asal tempat kuliah kamu dimana, yang terpenting kamu tekun. Tekun belajar dan tekun bekerja. Pasti kamu sukses. 

Dari situ, saya semakin yakin bahwa saya juga pasti punya kesempatan yang sama untuk belajar, untuk kuliah, untuk sukses. Akhirnya dengan berdoa dan minta restu orang tua, saya nekad ikut teman-teman saya untuk daftar kuliah ke kampus yang cukup lumayan terkenal di Tangerang. Beruntungnya karena saya dapat ranking, saya gak perlu ikut tes masuk dan dapat potongan harga. Total biaya kuliah yang harus saya bayarkan adalah Rp 4juta. Jujur, angka segitu banyak banget buat saya, apalagi orang tua saya gak bisa bantu banyak. Kalau gak salah, orang tua saya cuma bisa kasih Rp 500k buat bantu bayar kuliah, sisanya saya harus putar otak sendiri. 

Dikesempatan lain, saya ngobrol sama guru BK yang lain soal keputusan saya. Saya ceritain kondisi saya gimana, pegang uang berapa untuk bayar kuliah, dan apa yang harus saya lakukan supaya bisa bayar sisa Rp 3,5juta itu. Kami ngobrol banyak sepanjang siang itu, sampai nangis-nangis malah, tapi saya lega banget bahwa setidaknya ada orang yang mau mendengarkan saya. Berbekal nasehat dari guru BK dan tekad saya, saya yakin bisa kuliah dan bisa dapat kerjaan secepatnya setelah lulus sekolah.

Puji Tuhan, disaat hari pengumuman kelulusan saya, selain dapat kabar gembira bahwa saya lulus, saya juga dapat kerjaan. Yeay…!!! 

Masa-masa kuliah saya bisa dibilang biasa aja hahaha… Kendala terbesar kerja sambil kuliah malam adalah cape dan malas, belum lagi godaan untuk berbelanja ini-itu yang harus saya tahan karena harus memprioritaskan bayar uang kuliah terlebih dahulu. Pernah ya pas TV di rumah rusak – kita sudah panggil tukang servis untuk benerin tapi gak bisa, saya sempat berpikir apa cuti kuliah dulu aja ya supaya uangnya bisa saya beliin TV dulu?! Tapi pas cerita hal ini ke salah satu teman saya, dia nasehati untuk mendahulukan kuliah dulu. Kalau cepat lulus kuliah, kan enak nanti bisa beli TV yang lebih bagus. 

Iya, benar juga 😀

Di semester 6, saya mulai kewalahan. Saya memutuskan untuk cuti kuliah dulu dan cari kerjaan baru lagi karena kerjaan lama selain kantornya jauh dan selalu bikin saya telat terus datang ke kampus, juga kondisi internalnya sudah tidak baik dan nyaman lagi. Lagi-lagi bantuan tangan Tuhan tidak pernah terlambat, saya dapat kerjaan baru yang lebih baik dan bisa belajar banyak hal disana. Lokasinya juga lebih dekat, jadi mau ke kampus juga gak begitu jauh jaraknya.

Meskipun telat satu semester dari due date seharusnya (8 semester), saya bisa lulus kuliah juga 😊😊😊 Pada saat skripsi juga gak gitu banyak kendala, revisiannya juga sedikit. Moment paling membahagiakan adalah ketika kedua orang tua saya bisa hadir ke acara wisuda saya, anak mereka yang keras kepala ini akhirnya sarjana juga 😂

Wisuda – 12 Oktober 2013

Saya mau mengucapkan terima kasih untuk Tuhan Yesus atas kemurahan hatinya, juga orang tua dan orang-orang yang telah berjasa dalam hidup saya. Kalian mungkin lupa, tapi kebaikan dan ketulusan kalian akan selalu saya ingat.

Dan untuk teman-teman diluar sana yang tengah berjuang untuk menempuh pendidikannya, apapun kondisi kalian, sarana-prasarana yang terbatas, kesulitan ekonomi, susahnya memahami materi, dll… Semangat dan terus berjuang ya karena tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tetap bertekunlah ☺

“If you have something worth fighting for, then fight for it.”

Advertisements