Uncategorized

Menyikapi Komentar Orang

Rasanya kalau ditanya sejak kapan jadi kecanduan pergi-pergi, kayaknya sejak menikah deh. Sebelum menikah, kita biasanya pergi bareng sama orang tua, entah ke Bogor, Bandung, atau Yogyakarta jika libur panjang tiba. Tapi kalau pergi sama orang tua konsekuensinya jadwal acara jadi gak sebebas kalau pergi berdua saja. Tempat-tempat wisata yang kontur jalannya ekstrem pasti kita hindari, tempat makan ngehist tapi cari parkir susah juga kita lewati. Jadi keseringan ya kesitu lagi, kesitu lagi hihihi…

Pas sudah menikah kan lebih enak mau pergi kemana-mana walau cuma berdua saja, sudah legal kan soalnya šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚ kadang ada penginapan atau hotel yang rese aja minta KTP harus suami-istri, kalau enggak ditolak nginep disana. Meskipun hal tsb jarang terjadi di hotel yang sudah punya nama alias banyak kejadiannya di hotel kecil atau hotel syariah gitu, tapi mertua saya pernah ngalamin dua tahun lalu di salah satu hotel di Semarang. Kocak deh tapi sekaligus ngeselin hahaha…

Seiring dengan terus bertambahnya tempat-tempat yang kami datangi, maka kami semakin ketagihan untuk travelling ke tempat baru lagi, yang lebih jauh. Tuh kan jadi nyandu banget, kayak abis makan masakan yang dikasih micin jadi nagih terus hihihi… Tentu karena semakin seringnya frekuensi travelling kami, pasti semakin sering juga kami dapat komentar dari orang sekitar kami, baik komentar menyenangkan maupun yang kurang mengenakan.

Komentar kurang mengenakan datangnya dari salah satu keluarga saya yang memang gak hobi berpergian, jadi meskipun punya uang melimpah, beliau lebih suka diinvestasikan untuk membeli asset tidak bergerak. Alhasil, suatu hari sepulang saya dari Lombok, sebuah komentar pedas sampai ke kami: Jangan berpergian terus, kumpulin uangnya buat beli rumah. Kontan perasaan saya marah bercampur sedih dong ya, hiks. Tapi saya memilih untuk gak membalas komentarnya, selain karena selama ini saya gak pernah pakai uang beliau untuk berpergian dan juga we can’t control whatever people said since “ngomong itu gratis”. Udah ya, bye!

Saya pernah bilang ke suami, kita belum punya rumah saat ini tapi kita sudah dan akan terus berpergian ke banyak tempat, apa itu salah? Suami saya bilang, kita sedang menginvestasikan banyak uang kita untuk sebuah experiences dalam hidup kita. Menambah nilai diri kita dengan pengetahuan, wawasan, dan nilai-nilai kehidupan yang sejatinya gak kita terima jika banyak uang kita seluruhnya di belikan assets. Memang ini akan jadi pro-kontra bagi sebagian orang sih dan itu tidak menjadi masalah karena setiap orang berhak memiliki pemahamannya sendiri. Suami saya menambahkan, kita bukannya tidak investasi assets sama sekali loh. Kita hanya memiliki porsi yang berbeda, jadi memang kelihatannya lebih menonjol ya travellingnya dibandingkan yang lainnya. 

Sebuah kalimat yang related banget untuk saya dan suami: “Travelling keeps me humble because everytime i step foot in a new place, i am no one once again.” – Diana Rikasari.

Advertisements